Salah satu
permasalahan kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam khususnya HMI cabang tenggarong
adalah permasalahan terkait romansa asmara, dimana kader-kader yang pada awalnya aktif
berhimpun, tiba-tiba hilang tiada kabar apabila telah terbentur dengan
dinamika-dinamika yang mengatasnamakan cinta dan kemudian memperjuangkan
keindahan-keindahan semu yang pada ujungnya ikatan yang berlabel “Pacaran”
tersebut kandas dengan bermacam alasan, pastinya berakhirnya hubungan itu akan
menyakiti pihak tertentu dan berimbas kader-kader itu pun tidak ingin lagi
muncul berhimpun karena alasan sakit hati maupun risih dan sebagainya, dan ini
banyak terjadi dikalangan kohati-kohati yang katanya hidup tanpa kepala yang
hanya memiliki jantung. Ya memang benar, wanita pada umumnya banyak mengutamakan
perasaan dibandingkan rasionalitas, menyebabkan kader-kader kohati tidak ada
bedanya dengan orang-orang non organisasi, tidak berkarakter dan manja, kalau
kata kekiniannya sedikit-sedikit baper,kata
kiasan bahwa kader HMI adalah calon pemimpin masa depan hanyalah omong kosong
belaka melihat kondisi kader-kader sekarang ini.
Kembali
kepada pembahasan, romansa dan organisasi memang satu kesatuan yang tak
terpisahkan, ibaratnya taman tanpa bunga, sayur tanpa garam, atau apalah.
Memang cukup konyol menurut saya, namun ini sangat berpengaruh dan membutuhkan
perhatian yang serius. Disatu sisi kita ingin membatasi kader agar tidak masuk
keranah pacaran tapi disisi lain tidak ada hak untuk membatasi kebebesan kader
secara manusiawi. Cukup dilema bukan? Yang salah siapa? Yang salah semua pihak
yang bersangkutan, baik dari pihak sang
kumbang yang selalu haus akan madu asmara maupun si kembang yang suka rela dihisap madunya hingga layu dan mati.
Hari ini
kita merindukan sosok-sosok kohati yang
memiliki karakter pejuang dan tangguh, yang siap menggenggam toa meneriakkan
kebenaran, bukan orang-orang yang tampil di bagian paling depan dengan gaya kekiniannya, namun bersembunyi
dipojok jika dihadapkan dengan hal yang berbau intelektualitas.
Dan juga
kepada para kader HMI pria juga harus tau diri, harus memikirkan masa depan
organisasi yang krisis kohati, memacari kohati pasti akan memiliki
dampak-dampak tertentu, terlebih jika orang yang bersangkutan masih labil dan
belum berkepala, dalam artian masih memakai perasaan dalam bertindak, ketika
suatu saat hubungan kandas maka yang paling berpotensi dirugikan adalah si
kohati yang berhenti dalam perjuangannya untuk berproses mencapai tujuan HMI,
dan juga secara umum merugikan organisasi karena kehilangan kader satu persatu.
Dan memang
ketika dianalisa lebih jauh masih sangat banyak kerugian-kerugian jika pacarisasi ini tetap ada dalam
organisasi, mulai dari sakit hati jika akhirnya putus, membatas-batasi kader
lain untuk ikut berinteraksi dengan kader lain atas dasar kecemburuan dan juga
menjaga hati, dan juga tidak mencerminkan nilai-nilai keislamannya, toh memang dalam islam
tidak pernah di perbolehkan terkait pacaran.
Tidak salah
memang kita menyayangi kohati-kohati yang ada, tapi dalam artian yang positif,
tetap menjaga dan memberikan perhatian agar mereka merasa nyaman dalam
berhimpun, namun bukan dengan cara dipacari, jika kemudian ada
tendensi-tendensi ingin memacari, maka secara tidak langsung sudah menyakiti kohati
cepat atau lambat, walaupun memang tidak setiap hubungan yang terjalin berakhir
tragis begitu saja, tapi setidaknya tidak perlu menjalin hubungan apabila belum
merasa siap atau belum bisa berkomitmen untuk melangkah kejenjang yang lebih
jauh lagi, karena jika tidak, yakin dan percaya hanya akan berakhir dengan
ending yang tidak menyenangkan dan berimbas kepada organisasi.
#savekohati.
