Jumat, 22 April 2016


Salah satu permasalahan kader-kader Himpunan Mahasiswa Islam khususnya HMI cabang tenggarong adalah permasalahan terkait romansa asmara, dimana kader-kader yang pada awalnya aktif berhimpun, tiba-tiba hilang tiada kabar apabila telah terbentur dengan dinamika-dinamika yang mengatasnamakan cinta dan kemudian memperjuangkan keindahan-keindahan semu yang pada ujungnya ikatan yang berlabel “Pacaran” tersebut kandas dengan bermacam alasan, pastinya berakhirnya hubungan itu akan menyakiti pihak tertentu dan berimbas kader-kader itu pun tidak ingin lagi muncul berhimpun karena alasan sakit hati maupun risih dan sebagainya, dan ini banyak terjadi dikalangan kohati-kohati yang katanya hidup tanpa kepala yang hanya memiliki jantung. Ya memang benar, wanita pada umumnya banyak mengutamakan perasaan dibandingkan rasionalitas, menyebabkan kader-kader kohati tidak ada bedanya dengan orang-orang non organisasi, tidak berkarakter dan manja, kalau kata kekiniannya sedikit-sedikit baper,kata kiasan bahwa kader HMI adalah calon pemimpin masa depan hanyalah omong kosong belaka melihat kondisi kader-kader sekarang ini.
Kembali kepada pembahasan, romansa dan organisasi memang satu kesatuan yang tak terpisahkan, ibaratnya taman tanpa bunga, sayur tanpa garam, atau apalah. Memang cukup konyol menurut saya, namun ini sangat berpengaruh dan membutuhkan perhatian yang serius. Disatu sisi kita ingin membatasi kader agar tidak masuk keranah pacaran tapi disisi lain tidak ada hak untuk membatasi kebebesan kader secara manusiawi. Cukup dilema bukan? Yang salah siapa? Yang salah semua pihak yang bersangkutan, baik dari pihak sang kumbang yang selalu haus akan madu asmara maupun si kembang yang suka rela dihisap madunya hingga layu dan mati.  
Hari ini kita merindukan sosok-sosok kohati  yang memiliki karakter pejuang dan tangguh, yang siap menggenggam toa meneriakkan kebenaran, bukan orang-orang yang tampil di bagian paling  depan dengan gaya kekiniannya, namun bersembunyi dipojok jika dihadapkan dengan hal yang berbau intelektualitas.
Dan juga kepada para kader HMI pria juga harus tau diri, harus memikirkan masa depan organisasi yang krisis kohati, memacari kohati pasti akan memiliki dampak-dampak tertentu, terlebih jika orang yang bersangkutan masih labil dan belum berkepala, dalam artian masih memakai perasaan dalam bertindak, ketika suatu saat hubungan kandas maka yang paling berpotensi dirugikan adalah si kohati yang berhenti dalam perjuangannya untuk berproses mencapai tujuan HMI, dan juga secara umum merugikan organisasi karena kehilangan kader satu persatu.
Dan memang ketika dianalisa lebih jauh masih sangat banyak kerugian-kerugian jika pacarisasi ini tetap ada dalam organisasi, mulai dari sakit hati jika akhirnya putus, membatas-batasi kader lain untuk ikut berinteraksi dengan kader lain atas dasar kecemburuan dan juga menjaga hati, dan juga tidak mencerminkan nilai-nilai keislamannya, toh memang dalam islam tidak pernah di perbolehkan terkait pacaran.

Tidak salah memang kita menyayangi kohati-kohati yang ada, tapi dalam artian yang positif, tetap menjaga dan memberikan perhatian agar mereka merasa nyaman dalam berhimpun, namun bukan dengan cara dipacari, jika kemudian ada tendensi-tendensi ingin memacari, maka secara tidak langsung sudah menyakiti kohati cepat atau lambat, walaupun memang tidak setiap hubungan yang terjalin berakhir tragis begitu saja, tapi setidaknya tidak perlu menjalin hubungan apabila belum merasa siap atau belum bisa berkomitmen untuk melangkah kejenjang yang lebih jauh lagi, karena jika tidak, yakin dan percaya hanya akan berakhir dengan ending yang tidak menyenangkan dan berimbas kepada organisasi.
#savekohati.